Jan
28

72024_1431786077232_1310296609_30976749_5795806_aPercayalah, ini bukan keinginan baru. Setiap kali sadar bahwa ritme menulis saya semakin jarang, setiap kali pula saya bertekad kembali ke halaman ini. Di sini, di tempat saya leluasa menulis dan membagikan isi kepala saya. Di sini, ruang dimana saya berupaya merawat ingatan dan mengikat apa-apa yang saya amati kedalam kalimat. Dan manakala kehendak untuk kembali kemari datang, hal pertama yang ingin saya lupakan adalah Facebook :mrgreen:

Ya, kalian benar. Bukan salah bunda mengandung sehingga Si Mark lahir lalu menciptakan Facebook. Yang salah adalah Afriani karena berkendara dalam keadaan mabuk *loh?* :D

Facebook, dalam banyak hal, memang tampak lebih “seksi” tinimbang blog. Selain karena lebih ramah handphone butut, mengapdet status facebook juga jauh lebih mudah dari pada bikin postingan di blog.

Bagi para facebooker, mengetikkan satu kata saja sudah sah sebagai more…

Jan
26

Hari itu aku galau sekali. Seorang teman di fesbuk mempublikasikan status dengan warna yang agak “mengerikan”. Status kritis itu berkaitan dengan dukungan politik partai tertentu jelang Pilkada di Aceh. Mustinya aku tidak kaget, sebab jauh hari sebelum Si Kawan mempublisnya, informasi serupa sudah kudengar dari rekan lain. Meski tidak sama resmi dan detailnya.

Aku tidak mengerti benar, kenapa harus gelisah bahkan setengah marah saat mengetahui kabar tersebut. Padahal, dukungan kali ini bukanlah “keanehan” pertama yang ditunjukkan partai itu. Sejak tiga tahun belakangan, aku mencatat sejumlah keganjilan lain yang tak kalah sulit untuk dipahami. Termasuk beberapa pengalaman pribadi yang kurang mengenakkan, menyangkut organisasi tempatku tumbuh belajar.

406320_212764342146084_100002375595958_457095_174626755_nGalau memang sebaiknya tidak untuk dihadapi sendiri. Setengah satir, aku mengirimkan SMS kepada tiga rekan yang kukira akan membantuku untuk mengerti sedikit saja. Mereka, yang menurut amatanku masih objektif dan memahami alur pikiranku. Mereka, yang dalam beberapa kesempatan menunjukkan padaku bahwa sama seperti cinta, benci pun sebaiknya tidak buta. Mereka, more…

Jan
17

sekolah-dasar-300x300Sejak tertarik mempelajari bahasa jepang, sosok yang paling inspiratif bagi saya adalah murid kelas 1 SD. Meski tidak seluruh murid di kelas awal SD masuk dalam kategori ini, tetapi pada jamak mereka saya belajar tentang betapa deg-degan nya mempertahankan semangat selama proses belajar  menulis huruf dan angka untuk kali pertama. Setidaknya demikian yang saya alami ketika mula masuk sekolah dulu. Tanpa PAUD mau pun TK sebelumnya.

Berbeda dengan Bahasa Inggris, Bahasa Jepang tergolong lebih sulit untuk saya mengerti. Bukan hanya asing dengan kosa katanya, tetapi juga karena struktur kalimat serta hurufnya yang berbeda jauh dengan Bahasa Indonesia.

Sampai saat ini, saya baru more…

Jan
14

#1

Jika suatu ketika nanti, aku benar punya kesempatan untuk membantumu mengerjakan PR, mengajarimu membaca serta mengaji, mendongengimu sebelum tidur, menuntunmu memahami banyak bahasa, serta mendampingimu menyemai cita-cita, satu petuah yang kuharap tak akan pernah lupa untuk kuucap kepadamu:

Tempat yang paling indah memanglah rumah. Tapi merantaulah kau meski sekali. Agar kau mengerti bagaimana cara menghargai orang-orang yang bukan berasal dari rumahmu. Agar kau dapat belajar bersikap lebih bijak dan santun kepada orang-orang baru di tempat itu, serta merasakan bagaimana menjadi tamu. Sebab di tempat asing lah kita akan lebih mudah mengerti makna keterasingan.434akt_hafalan2

Lalu jika dengan kafir saja kita masih diseru adil, bagaimana lagi dengan saudara seiman? Maka atas nama aqidah, kuingin kau tak menganggap negara, suku, atau hanya rasmu lah yang paling tinggi di mata Tuhan.

Mengertilah akan kekuatan sebuah aqidah. Bahwa saudara seiman lebih kuat ikatannya dibanding saudara sedarah tapi beda aqidah. Maka more…

Nov
29

Tidak tahu bagaimana harus memulai tulisan ini. Situasi sedang tak baik sebenarnya. Sejak Jum’at kemarin kepala saya penuh, serasa-rasa ada yang mau tumpah ke luar. Ini akibat kelalaian dan ketidaktegasan dalam memilih sikap. Pekerjaan yang semestinya tuntas lebih cepat, malah mengendap dalam waktu yang lama. Ujung-ujungnya, seperti biasa, musti diburu di ujung waktu. Poofh! Predikat sebagai ‘Miss Deadline’ agaknya mulai sukar dilepaskan.

Dan di sinilah saya sekarang. Di sebuah café, berhadapan dengan jalan raya, duduk semeja dengan rekan yang ‘terpaksa’ mengikuti kemauan saya : menyelesaikan tugas bagiannya dalam waktu sesingkat mungkin. Well, untuk pekerja bersyaratkan kreativitas seperti dia, tindakan saya ini benarlah merupakan sebentuk pendzaliman. Kehendaknya untuk bereksplorasi jadi terpenjara waktu. Kali ini, entah bagaimana, saya benar menyesal.

Sementara dia berkutat dengan baris dan kolom, sambil sesekali meminta saya mencari foto yang lebih pantas atau memenggal kalimat agar pas di tempatnya, saya menonton film China. Tidak tahu judulnya apa. Ketika TV dihidupkan pelayan café, itu film sudah setengah tayang. 238fcfe6-f8f4-409e-8762-8bb1ab414eac

Di sana, di dalam layar kaca, sekitar sembilan aktor tengah berperan sebagai boy band. Mereka ketat berlatih, bersiap-siap mengikuti kompetisi pemilihan penari jalanan China terbaik untuk tahun itu. Satu kontestan terpilih akan dihadiahi uang 1 juta dollar. Agaknya kesembilan pemuda ini merupakan new comer dan belum memiliki fans yang bisa jadi supporter.

Dari salah satu scene di film ini saya jadi tahu, more…